Arsitektur Rumah Tradisional Mamasa, Teknologi Tinggi Masa Lampau

Arsitektur Rumah Tradisional Mamasa, Teknologi Tinggi Masa Lampau. Setiap suku bangsa atau etnis memiliki rumah tradisional dengan ciri khas tertentu. Bentuk rumah, ukuran rumah dan arsitektur rumah memiliki makna tertentu. Indonesia sangat kaya dengan berbagai jenis rumah tradisional yang tersebar di seluruh nusantara ini. Tidak terkecuali rumah tradisional Mamasa yang akan dibahas dalam tulisan ini sebagai Teknologi Tinggi Masa Lampau.

Banua Layuk

Tahukah anda tentang Mamasa? Mamasa adalah sebuah daerah yang terletak di pegunungan Sulawesi Barat dengan berbagai keunikan dan menyimpan sejuta pesona. Inilah yang menjadi alas an sehingga Mamasa ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata unggulan di Sulawesi Barat. Mamasa telah terbentuk sebagai sebuah kabupaten sejak tahun 2011 dan sejak itu Mamasa mulai terbuka terhadap dunia luar. Banyak wisatawan yang kagum akan berbagai keunikan antara lain arsitektur rumah tradisional yang seolah dirancang dengan teknologi tinggi. Arsitektur Rumah Tradisional Mamasa, Teknologi Tinggi Masa Lampau.

Sekilas rumah tradisional Mamasa mirip dengan rumah tradisional Toraja dan Batak dengan bentuk atap yang melengkung. Meskipun mirip dengan kedua jenis rumah tersebut namun jika diperhatikan secara saksama ternyata banyak perbedaan yang tentu dengan keunikan masing-masing. Toraja dan Mamasa memang memiliki kemiripan karena leluhur orang Mamasa adalah hasil perkawinan antara suku Toraja dengan suku pesisir pantai yang akan dibahas pada bagian lain. Arsitektur Rumah Tradisional Mamasa, Teknologi Tinggi Masa Lampau

 

Rumah tradisional Mamasa dibedakan atas Janis berdasarkan tatanan social masyarakat :

  1. Banua Layuk (Rumah yang u.kurannya tinggi dan besar). Banua artinya rumah, layuk artinya tinggi atau besar. Rumah ini dihuni oleh pemangku adat atau para bangsawan sehingga jumlahnya tidak banyak ditemukan. Rumah jenis ini dibangun dalam waktu yang lama sampai bertahun-tahun mengingat ukurannya yang tinggi dan menggunakan kayu tertentu. Banua Layuk dengan usia ratusan tahun masih ditemukan di beberapa tempat dalam kondisi yang masih terpelihara.
  2. Banua Sura’ (Rumah Ukir) yakni rumah yang ukurannya besar tetapi tidak terlalu tinggi dengan ciri khas diukir . Rumah ini sama denga Banua Layuk yang dihuni oleh pemangku adat atau para bangsawan. Masih banyak rumah ukir yang berumur ratusan tahun berdiri kokoh di daerah Mamasa. Membangun rumah ini pun membutuhkan waktu bertahun-tahun.
  3. Banua Bolong (Rumah Hitam). Bolong artinya hitam. Bentuknya sama dan ukurannya sama dengan Banua Sura’ tetapi tidak diukir dan hanya diberi warna hitam. Biasanya dihuni oleh bangsawan dan pemberani. Semacam Panglima perang barangkali ya ? Membangunnya juga membutuhkan waktu lama meski tidak selama Banua Sura’ karena tidak perlu diukir.
  4. Banua Rapa’, bentuknya sama dengan Banua Bolong namun ukuranny agak kecil dan ciri khasnya dibiarkan tanpa warna (tetap warna asli kayu). Rumah ini dihuni oleh masyarakat umum dan inilah jenis rumah yang paling banyak di Mamasa. Membangun rumah ini tidak membutuhkan waktu terlalu lama.
  5. Banua Longkarrin adalah ukuran rumah yang paling kecil dangan ciri khas tiang-tiangnya ditancapkan pada balok yang melintang di atas permukaan tanah sebagai pondasi (longkarrin). Rumah ini pada umumnya dihuni oleh masyarakat bawah.

Khusus untuk banua layuk, banua sura’ dan banua bolong selalu dilengkapi dengan lumbung (alang) besar yang terletak di depan rumah bahkan banua layuk dan banua sura’ sering lebih dari 1 lumbung. Banua rapa’ biasanya dengan lumbung kecil sedangkan banua longkarrin umumnya menggunakan anyaman bamboo berbentuk silinder (talukun tallang) untuk penyimpanan padi.

Meskipun jenis rumah berdasarkan strata social namun ada kalanya kaum bangsawan pun menghuni rumah yang lebih rendah kelasnya; tapi sebaliknya tidak semua strata boleh menghuni rumah yang lebih tinggi kelasnya. Sejalan dengan perkembangan, sekarang klasifikasi ini cenderung tidak diperhatikan lagi. Perbedaan lain yang sangat mencolok dari setiap jenis rumah di atas adalah penataan ruang dan aksesoris bangunan. Setiap jenis rumah memiliki ketentuan penataan dan jumlah ruang serta aksesoris yang boleh dikenakan pada rumah.

Arsitektur rumah tradisional Mamasa memang teknologi tinggi masa lampau. Betapa tidak, penataan dan aksesoris setiap  rumah sejenis memiliki bentuk yang sama meskipun tanpa menggunakan gambar. Bahkan dengan alat yang sangat sederhana para tukang (tomanarang) dapat mendirikan bangunan dengan ukuran yang sangat simetris. Uniknya lagi tak satupun bagian sambungan yang menggunakan paku, tanpa menggunakan dempul dan bahan penghalus lainnya.

Penataan ruang pada rumah tradisional Mamasa.

Untuk Banua Layuk, Banua Sura’ dan Banua Bolong memiliki penataan dan jumlah ruang yang lengkap. Bagian depan rumah dilengkapi dengan ruang semacam serambi depan yang disebut  Sali-Sali  yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu, tempat bermusyawarah dan berbagai kegiatan ritual. Ruang ini letaknya lebih rendah dari lantai rumah. Untuk menghubungkan antara Sali-Sali dengan pintu rumah (pintu rumah untuk ketiga jenis rumah ini terletak dibagian samping) dibuat serambi samping yang disebut pataen . Badan rumah terbagi atas 5 ruang yakni: Bagian paling depan disebut Tado’, bagian tengah merupakan ruang paling besar disebut Ba’ba, kemudian ruang ketiga disebut Tambing yang dibagi lagi menjadi Pollo’ Tambing dan Tambing, dan bagian paling belakang yakni Lombon (dapur).

Ukuran Tado’, Tambing dan Lombon relative sama kecuali Ba’ba berukuran lebih besar. Setiap ruang ini mempunyai fungsi tertentu. Untuk aktifitas sehari-hari Tado’ biasanya berfungsi sebagai ruang tidur tambahan jika ada tamu. Ba’ba sebagai ruang utama untuk berbagai kegiatan yang dihadiri banyak orang seperti acara pelamaran, musyawarah keluarga dan untuk menjamu tamu. Pollo’ Tambing merupakan ruang menata hidangan sebelum disajikan kepada tamu dan ruang bagi ibu rumah tangga untuk mengontrol ke dapur dan ke ruang tamu. Tambing adalah ruang paling utama sebagai tempat tidur tuan rumah dan tempat paling rahasia. Jika ada pembicaraan yang sangat penting dan rahasia internal keluarga maka di Tambing inilah dibicarakan. Bagian terakhir yakni Lombon sebagai dapur.

Pada acara kamatian, ruang-ruang tersebut dapat berfungsi khusus sesuai dengan tahapan-tahapan upacara kematian yang akan dibahas pada bagian lain. Arsitektur rumah tradisional Mamasa sebagai teknologi tinggi masa lampau tidaklah belebihan karena bangunan-bangunan purbakala rumah tradisional yang masih berdiri kokoh menjadi saksi bisu dimasa modern ini. Mungkinkah leluhur kita pernah belajar teknik arsitektur dan teknik sipil ? Entahlah, tapi yang jelas rumah tradisional yang bertebaran di berbagai penjuru nusantara ini menggunakan teknologi tinggi. Arsitektur Rumah Tradisional Mamasa, Teknologi Tinggi Masa Lampau.

Bagian-bagian utama secara utuh sebuah rumah tradisional Mamasa dibagi atas:

  1. Tiang penyanggah yang terletak di bagian depan dan bagian belakang yang disebut penulak (kecuali pada banua longkarrin) tidak ada.
  2. Tiang-tiang penyanggah badan rumah dangan jumalh yang sangat banyak disebut lentong . Untuk menghubungkan setiap tiang digunakan balok-balok yang disebut
  3. Bagian lantai (Sali) terdiri dari kalakka’ (tempat memasang lantai), pata’ (balok yang membagi dua secara membujur ruang
  4. Dinding (rinding) terdiri dari sub bagian daporan (alas dinding), manangnga (rangka dinding) dan ba’ (bagian atas dinding). Dinding bagian depan dan belakang ada dinding bagian atas yang berbentuk segitiga disebut para ba’ba.
  5. Atap (papa). Sebagai tempat memasang atap disebut kaso dan pada bagian bubungan sebagai tempat mengikat ujung kaso dipasang balok panjang yang disebut Setelah atap dipasang, bagian bubungan atap dipasang penutup untuk mencegah rembesan hujan yang disebut talau.
  6. Pada bagian badan rumah dilengkapi pula dengan tiang penyanggah yang disebut petuo.

Aksesoris rumah tradisional Mamasa.

Rumah tradisional Mamasa terutama Banua Layuk dan Banua Sura’ memiliki aksesoris yang sangat banyak dan masing-masing memiliki makna. Disamping ukiran yang akan dibahas pada bagian lain, ada berbagai jenid aksesoris yang patut dikaji sebagai kekayaan budaya Mamasa. Pada umumnya Banua Layuk dan Banua Sura’ memiliki 2 tiang penyanggah di bagian depan rumah yang disebut penulak. Pada penulak ini dilengkapai bermacam aksesoris yakni kalunteba’, tanduk titing, pesodok, lumpa-lumpa dan patung kerbau atau patung kuda. Pada dinding depan rumak ada aksesoris yang disebut badong, taramanuk, talinga tedong dan sering pula dilengkapi patung manusia. Arsitektur Rumah Tradisional Mamasa, Teknologi Tinggi Masa Lampau.

BACA ARTIKEL TERKAIT: Hewan Sembelihan Pada Upacara Kematian Di Mamasa: Tradisi Yang Sarat Makna Sosial

Jika saat ini orang mendirikan rumah tradisional dengan bentuk yang menyerupai  rumah yang dibangun pada masa lampau tentu bukan hal istimewa karena telah didukung oleh peralatan pertukangan yang modern, teknik arsitek dan teknik sipil yang mutakhir serta dana yang cukup. Nilai budaya arsitektur rumah tradisional Mamasa sungguh teknologi tinggi masa lampau yang patut dilestarikan. Arsitektur Rumah Tradisional Mamasa, Teknologi Tinggi Masa Lampau

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *