Hewan Sembelihan Pada Upacara Kematian Di Mamasa: Tradisi Yang Sarat Makna Sosial

Hewan Sembelihan Pada Upacara Kematian di Mamasa: Tradisi Yang Sarat Makna Sosial. Setiap suku atau komunitas masyarakat memiliki kebeiasaan tersendiri dalam memperlakukan kerabat yang meninggal dunia. Di daerah Mamasa Sulawesi Barat yang masih tergolong suku Toraja pada acara kematian selalu ditandai dengan penyembelihan sejumlah hewan berupa ayam, babi dan kerbau. Dalam tulisan ini akan dibahas tentang makna social hewan sembelihan pada upacara kematian.

Hewan Sembelihan Pada Upacara Kematian di Mamasa: Tradisi Yang Sarat Makna Sosial. Bagi orang Mamasa, kerabat yang meninggal harus diperlakukan dengan baik sebagai ungkapan kasih sayang dan rasa duka yang dalam dari keluarga. Kasih sayang dan dukacita ini diungkapkan antara lain melalui pengorbanan materi mulai dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan oleh mayat, penyembelihan sejumlah hewan dan berbagai bentuk perlakuan dengan maknanya masing-masing.

Hewan Sembelihan Pada Upacara Kematian di Mamasa: Tradisi Yang Sarat Makna Sosial. Penyembelihan hewan untuk upacara kematian (Rambu Solo’) pada masa lampau sangat ditentukan oleh status social seseorang; namun sejalan dengan perkembangan terjadi pergeseran nilai sehingga lebih cenderung ditentukan oleh tingkat kemampuan ekonomi dan prestise seseorang. Penyembelihan hewan terutama kerbau (Tedong) dalam hal jumlah dan jenis kerbau tergantung pada tingkatan upacara yang dilaksanakan oleh keluarga. Tingkatan upacara ini lagi-lagi mengalami pergeseran nilai dari status social kepada status ekonomi.

Ada beberapa tingkatan upacara kematian di Mamasa mulai dari yang paling tinggi disebut Allun dengan mengorbankan puluhan ekor kerbau, ratusan ekor babi sedangkan ayam hanya tahapan-tahapan tertentu misalnya pada saat orang yang meninggal baru saja menghembuskan nafas terakhir. Allun juga masih dibedakan lagi dalam sub tingkatan. Pada tingkatan allun ini, mayat disemayamkan di rumah duka dalam waktu lama biasanya 1 sampai 2 tahun tergantung kesepakatan keluarga.

Tingkatan menengah adalah Ruran dengan jumlah kerbau sembelihan maksimal 12 ekor dan disemayamkan tidak lebih dari 1 bulan. Ruran juga masih terbagi atas sub tingkatan lagi. Tingkatan berikutnya dibawah Ruran yakni Balado dengan jumlah kerbau lebih sedikit lagi, kemudian Tenten dengan hanya satu ekor kerbau dan yang paling rendah tanpa menyembelih kerbau tapi hanya babi yang disebut  Disalu Bai. Ulasan secara rinci tentang tingkatan upacara kematian akan dibahas pada bagian lain.

Ada beberapa makna  hewan sembelihan pada upacara kematian di Mamasa antara lain makna religi terkait dengan keyakinan leluhur sebelum agama masuk ke wilayah Mamasa bahwa hewan sembelihan akan dan harta benda yang diberikan kepada mayat  “dibawa” ke akhirat ketika seseorang meninggal dunia. Makna lain adalah sebagai symbol status dalam masyarakat dan keluarga akan merasa bersalah jika tidak memenuhi jumlah hewan sembelihan sesuai status sosialnya.

Ada hal yang paling menarik dan penting untuk dilestarikan yakni makna social dalam hal mempererat ikatan kekeluargaan melalui hewan korban sembelihan khususnya kerbau. Kerbau yang disembelih tidak dibagi-bagi begitu saja tetapi setiap irisan daging kerbau memiliki peruntukan tertentu yang telah ditentukan melalui musyawarah keluarga. Karena itu sebelum menyembelih kerbau (mantunu tedong) berapapu banyaknya harus didahului dengan musyawarah pembagian daging (mangngira’ puduk).

Pihak-pihak yang akan mendapat pembagian daging diklasifikasi sebagai berikut: Pertama,  pihak keluarga orang yang meninggal yakni dari pihak ayah dan ibunya biasanya sampai lapisan ketiga ke atas (kakek dan neneknya) sejumlah bersaudara. Misalnya kakeknya ada 5 orang bersaudara maka semuanya harus mendapat pembagian. Selanjutnya saudara-saudara dari ibu dan bapaknya, kemudian sauadaranya sendiri.

Kedua, keluarga dari menantu (rampean), Ketiga, pekerja meliputi pekerja di dapur, orang yang menyiapkan kayu bakar, orang membuat usungan mayat, orang yang membungkus mayat, orang yang menunggu mayat selama disemayamkan, orang yang memasang perhiasan emas pada bungkusan mayat, orang yang menyapa tamu dengan bahasa sanjungan (to ma’singgi’) dll. Keempat, tokoh adat, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah dan pejabat keagamaan. Kelima , masyarakat umum.

Pembagian daging kepada setiap pihak yang disebutkan diatas sesungguhnya tidak melihat nilai dagingnya namun lebih utama sebagai symbol penghargaan sehingga adakalanya daging itu tidak diambil oleh yang bersangkutan yang penting telah disebut di area penyembelihan. Pada upacara kematian tingkat allun, pembagian daging dilakukan oleh seorang yang benar-benar memahami hubungan keluarga dan tatanan masyarakat dan berdiri di atas podium khusus sambil menyebutkan satu persatu pihak yang akan mendapat pembagian daging.

Hewan sembelihan pada acara kematian di Mamasa memang sarat dengan makna social yang dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Mempererat hubungan kekeluargaan sehingga tetap merasa sebagai satu kesatuan yang harus saling menopang dalam menjalani kehidupan. Bahkan banyak diantara mereka yang baru mengetahui hubungan keluarganya pada saat pembagian daging dilakukan.
  2. Bermakna penghargaan ungkapan syukur kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada keluarga dalam menghadapi kedukaan sehingga sikap saling menghargai tetap terpelihara dalam kehidupan masyarakat, dalam ungkapan Mamasa disebut Sitayuk Sipakasalle Sirande Maya-maya.
  3. Makna gotong-royong. Pada acara kematian di Mamasa, setiap orang merasa bagian dari keluarga yang berduka sehingga secara spontanitas ikut membantu dalam bentuk apapun dan pada saat pembagian daging, setiap orang mendapat pembagian meskipun dengan ukuran yang sangat kecil. Dalam bahasa Mamasa disebut tawa tau kamban (pembagian kepada masyarakat umum).
  4. Makna lain yakni menyantuni orang-orang yang berkekurangan. Pada masa lalu banyak masyarakat yang jarak menikmati lauk pauk yang layak sehingga saat acara kematian mereka layak diberikan pembagian daging. Zaman sekarang sejalan dengan kemajuan, hal ini hampir tidak ada lagi masyarakat kekurangan lauk-pauk.

Meskipun  memiliki banyak persamaan antara tradisi orang  Toraja dengan tradisi orang Mamasa dalam hal penyembelihan hewan pada acara kematian tetapi dalam beberapa hal terdapat perbedaan terutama pada penekanan makna penyembelihan. Tradisi penyembelihan kerbau pada acara kematian di Mamasa lebih menekankan pada makna hubungan social.  Penyembelihan hewan pada upacara kematian memang sarat makna seperti status strata social, status ekonomi dan tidak terlepas masalah harga diri (gengsi). Hewan Sembelihan Pada Upacara Kematian di Mamasa: Tradisi Yang Sarat Makna Sosial.

Mengapa kerbau di jadikan sebagai korban sembelihan tertinggi ? Pandangan orang Mamasa terhadap hewan kerbau adalah sebagai symbol kemakmuran dan menjadi tolok ukur tingkat perekonomian. Dalam menghitung harta kekayaan digunakan satuan kerbau. Juga pada kegiatan transaksi harta benda digunakan satuan kerbau; misalnya sebuah rumah dinilai berapa ekor kerbau, sepetak sawah juga dinilai dengan kerbau.

Hewan sembelihan pada upacara kematian di Mamasa memang merupakan tradisi yang sarat makna social sehingga patut dilestarikan dalam tatanan yang sebenarnya dan bukan karena harga diri atau gengsi. Pro dan kontra memang terjadi terhadap pengorbanan yang sangat besar pada acara kematian (rambu solo’) terlebih dari kaca mata ekonom. Namun sesungguhnya jika dikembalikan pada tatanan yang sebenarnya, pengorbanan itu dapat dilakukan karena kebersamaan dan saling menopang. Pada masa lalu tidak ada orang Mamasa yang jatuh miskin karena menghadapi acara kematian. Maka tempatkanlah tradisi dan budaya secara benar. Hewan Sembelihan Pada Upacara Kematian di Mamasa: Tradisi Yang Sarat Makna Sosial.

BACA JUGA:

PANDUAN PERJALANAN WISATA KE MAMASA SULAWESI BARAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *