Pemali Appa’ Randanna” Sebagai Pedoman Tatanan Kehidupan Masyarakat Adat Mamasa

Pemali Appa’ Randanna adalah norma-norma yang mengatur Empat Aspek Utama Tatanan Kehidupan dalam masyarakat Mamasa. Keempat aspek ini merupakan jati diri masyarakat Mamasa yang terpelihara secara turun-temurun. Hadirnya peradaban modern dan berbagai agama di bumi Mamasa ternyata dapat berassimilasi secara baik dengan Pemali Appa’ Randanna sebab nilai-nilai yang terkandung didalamnya searah dengan nilai-nilai dasar berbagai agama.

Pemali Appa’ Randanna dianut oleh seluruh masyarakat Pitu Ulunna Salu Kondosapata’ Wai Sapalelean yang saat ini dikenal dengan Kabupaten Mamasa. Namun dalam implementasinya ada beberapa perbedaan teknis di setiap komunitas adat meskipun hakikatnya sama. Agar pembahasan ini tidak bias, maka tulisan ini membatasi pada penerapan Pemali Appa’ Randanna khusus di wilayah kehadatan Rambusaratu’ yakni salah satu komunitas adat yang terletak di pusat wilayah Kabupaten Mamasa.

Dalam kehidupan masyarakat Mamasa, pemali appa’ randanna masih terpelihara dengan baik meskipun telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi terlebih terkait dengan agama atau keyakinan yang dianut masyarakat Mamasa saat ini. Setiap tahapan pelaksanaan empat aspek tersebut disertai dengan aturan-aturan dan larangan yang tidak boleh dilanggar. Aturan itulah yang disebut pairan dan larangan disebut pemali.

Keempat aspek dalam Pemali Appa’ Randanna meliputi:

Pa’totiboyongan

Adalah aspek yang terkait dengan urusan pertanian khususnya bercocok tanam padi di sawah. Padi merupakan sumber makanan pokok bagi masyarakat Mamasa sehingga urusan Pa’totiboyongan sangat diutamakan. Berbagai aturan, urut-urutan pelaksanaan dan larangan harus dipatuhi oleh setiap warga masyarakat. Urusan Pa’totiboyongan ini ditangani oleh orang tertentu yang ditetapkan oleh pemangku adat dan menjadi salah satu “kabinet” dalam pemerintahan adat. Jabatan ini disebut Passuba atau So’bok atau Pariama. Setiap tahapan harus dilakukan secara serentak dibawah komando Passuba. Demikian pula setiap larangan harus dipatuhi oleh semua orang. Misalnya selama pekerjaan sawah tidak boleh mengunjungi kuburan, tidak boleh melakukan pesta pernikahan dll.

Tahapan-tahapan pekerjaan sawah sebagai berikut:

  1. Pangkayoan Palempang (membersihkan saluran irigasi)
  2. Malleko’ atau ma’bungka’ yakni tahapan awal membajak sawah dengan menggunakan alat yang disebut peleko’ yakni sebilah kayu yang bengkok dan dilengkapi mata bajak pada salah satu ujungnya. Ada juga yang menggunakan bajak yang ditarik oleh kerbau. Tanah dipermukaan sawah dibuat membentuk lajur-lajur yang disebut  “borong”.
  3. Mantepo yakni proses menghancurkan “ borong” dengan menggunakan tangan atau kayu berbentuk garpu  atau “salaga”yang ditarik oleh kerbau.
  4. Massese yakni proses membersihkan pematang sawah
  5. Mantodo’ yakni proses menutupi permukaan pematang dengan lumpur. Tujuannya untuk menutup rumput dan mempertahankan ukuran pematang.
  6. Marrui’ adalah proses memindahkan tanah dari permukaan yang tinggi ke bagian yang lebih rendah agar permukaan sawah tetap rata. Alat yang digunakan disebut  “ ruisan”.
  7. Massalo yakni proses meratakan permukaan sawah dengan tangan agar benar-benar rata sebelum ditanami.
  8. Proses selanjutnya adalah menanam padi yang disebut “mangngambo’”. Teknik yang digunakan adalah Tanam Benih Langsung (Tabela). Pada tahapan ini dilakukan ritual khusus dengan menyembelih hewan yakni babi atau ayam dan memperhatikan waktu yang tepat menurut bulan langit.
  9. Setelah padi mulai membesar maka dilakukan proses menyiangi tanaman padi yang disebut “tumorak” atau “mantorak”. Disamping membersihkan rumput, juga mengatur tanaman padi secara merata. Kegiatan ini disertai dengan ritual khusus yang disebut “ma’io-io”.
  10. Kegiatan selanjutnya adalah membersihkan rumput pada pematang yang disebut “mambate” atau “ma’pandita” agar tidak menjadi sarang hama.
  11. Setelah buah padi mulai kelihatan maka perlu dilakukan penjagaan agar tidak diserang hama terutama burung pipit. Kegiatan ini disebut “mataian”. Untuk persiapan mataian, dibangunlah pondok kecil ditepi sawah. Berbagai sarana penghalau pipit dipasang seperti  “tinting” (tali rotan yang dibentangkan diatas permukaan sawah,  sawah, orang-orangan (tau-tau), rembasan, rodoan, lappa-lappa, tingka’ dodo, payo-payo dll. Selain itu disiapkan alat pelontar batu atau tanah liat yang dibentuk seperti bakso. Alat ini disebut  “pekola”.  Disiapkan pula berbagai perangkap tikus berupa “poya”, salopi’, teo dsb. Selama kegiatan mataian dilakukan beberapa jenis permainan rakyat seperti “ma’kalunteba’” (kincir angin atau baling-baling), “ma’ololio” (terompet yang dibuat4 dari batang padi.
  12. Setelah padi sudah  mulai menguning dilakukan panen pendahuluan yang disebut “ma’karingngi’”. Padi yang setengah t4ua dimasak kemudian dikeringkan dengan cara diasapi lalu ditumbuk. Beras yang dihasilkan memiliki aroma khas yang harum. Beras kemudian dimasak dan dimakan bersama para kerabat keluarga dengan lauk yang cukup istimewa. Acara “ma’karingngi’” merupakan ungkapan syukur atas berhasilnya tanaman padi.
  13. Setelah padi benar-benar siap dipanen maka dilakukanlah kegiatan memanen yang disebut “mepare” yang ditandai dengan permainan rakyat berupa gasing dan logo. Padi yang sudah dipanen menggunakan “rangkapan” (anai-anai) kemudian dibuat ikatan-ikatan kecil yang disebut “kutu’”. Selanjutnya  “kutu’” disusun berbent4uk gundukan-gundukan di pematang yang disebut dena’-dena’.
  14. Proses selanjutnya adalah mengangkut padi ke  dalam kampong yang disebut ma’pakendek atau”mangkoya’”.
  15. Jika jumlah padi banyak maka dibutuhkan pagar keliling yang tinggi disekeliling rumah yang disebut “kambung”. Tujuannya agar ayam tidak menjangkau padi.
  16. “Mangngallo” adalah proses menjemur padi di halaman rumah.
  17. Setelah kering, padi disimpan dalam lumbung. Kegiatan ini disebut  ma’pakissin atau mallika’ atau mangnganna. Mengakhiri kegiat4an panenan bisanya dilakukan acara “malleong” (membuat nasi lemang atau nasi bamboo dari beras ketan).

Setelah semua kegiatan mulai dari pekerjaan sawah sampai penyimpanan padi, ada masa jedah yang disebut “meallo”. Masa ini sering digunakan untuk mengadakan musyawarah bersama untuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan selanjutnya.

  • Pa’bannetauan atau Basse Pentambenan yakni aspek yang berkaitan dengan perkawinan.  Perkawinan dalam masyarakat Mamasa sangat disakralkan dan sarat dengan norma-norma yang wajib dipatuhi oleh setiap orang. Setiap pelanggaran dalam proses perkawinan diganjar dengan sanksi hukum adat setempat. Dalam masyarakat  Mamasa tidak diperkenankan pernikahan sedarah atau pernikahan dengan keluarga dekat. Dalam kondisi tertentu pernikahan dengan keluarga dekat  dilakukan dengan persyaratan sangat ketat.

Ada beberapa tahapan dalam proses perkawinan atau pernikahan secara adat Mamasa:

  1. “Massusuk” adalah proses penjajakan paling awal yang dilakukan oleh kaum perempuan kepada orang tua kandung  calon pengantin. Hal ini tidak boleh diketahui oleh kaum laki-laki.
  2. Mangngusik” adalah proses penjajakan kedua apabila ada lampu hijau pada saat  “massusuk”. Kegiatan ini sudah agak meluas karena melibatkan beberapa keluarga pihak calon pengantin wanita. Proses ini masih sangat dirahasiakan kepada kaum laki-laki. Sikap merahasiakan proses ini kepada kaum laki-laki disebut “ma’kayu rapo” atau “diannaan daun saserek”. Intinya adalah menghargai kaum laki-laki sebagai bentuk etika menjunjung tinggi kesakralan perkawinan.
  3. Ma’randang” yakni kegiatan melamar secara resmi kepada pihak calon mempelai wanita apabila ada persetujuan dalam proses “mangngusik”. Kegiatan melamar ini dilaksanakan oleh kaum laki-laki dari pihak calon pengantin laki-laki kepada keluarga besar calon pengantin perempuan. Dalam acara “ma’randang” ini digunakan bahasa baku (bahasa sastra Mamasa). Kegiatan ini sangat alot karena semua keluarga calon pengantin wanita memberikan pendapatnya. Apabila pihak keluarga telah sepakat menerima lamaran maka disepakatilah waktu pelaksanaan resepsi pernikahan.
  4. “Ma’somba” adalah  acara resepsi pernikahan. Dalam acara ini pengantin disuguhkan hidangan khusus berupa daging babi dengan ukuran cukup besar yang disebut “angka’” yang maknanya kurang lebih sama dengan kue pengantin. Hidangan ini bukan untuk dimakan oleh pengantin tapi diserahkan kepada orang yang dituakan dalam keluarga kedua belah pihak. Hidangan pengantin pria diberikan kepada pihak pengantin wanita dan sebaliknya hidangan pengantin wanita diberikan kepada pihak pengantin pria.
  5. Massarak” yakni acara memboyong pengantin wanita ke rumah pengantin pria setelah acara resepsi selesai. Di rumah pengantin pria dilakukan lagi acara syukuran. Acara ini bermakna bahwa pengantin perempuan secara resmi menjadi bagian dari keluarga pengantin pria. Dalam ikatan perkawinan adat Mamasa dikenal istilah “sisonda tomatua sisulle sado’doran” (saling bertukar orang tua dan keluarga). Makna sesungguhnya adalah bahwa kedua pengantin menjadi perekat antara dua belah pihak keluarga besarnya. Jika ada persoalan dalam rumah tangganya maka laki-laki meminta petunjuk kepada keluarga isterinya dan sebaliknya. Suami harus menganggap mertuanya sebagai orang tua kandung dan sebaliknya isteri pun demikian agar ikatan rumah tangga tetap kokoh.
  • Pa’kurru’sumangasan atau Kaparrisan

Acara ini dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur atas berkat Tuhan yang dirasakan oleh seseorang atau keluarga. Acara syukuran ini dilakukan secara berjenjang mulai dari syukuran kecil sampai pada syukuran tertinggi yakni ma’bua’. Ritual syukuran ini disamping sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, juga bermakna sebagai sikap berbagi kepada masyarakat sekitar. Oleh karena itu pada acara syukuran ini disertai dengan pengorbanan materi yang cukup besar dan dihadiri oleh seluruh kaum keluarga dan masyarakat sekitar.

Ada beberapa ritual syukuran khusus untuk laki-laki misalnya ma’pararuk  dan ada juga khusus untuk kaum perempuan misalnya pa’bisuan tetapi ada pula merupakan syukuran bersama misalnya menani pare. Ulasan secara lengkap tentang Kaparrisan akan dibahas pada bagian lain.

  • Pa’tomatean

Pa’tomatean adalah seluruh rangkaian acara yang terkait dengan kematian seseorang. Dalam tatanan masyarakat Mamasa, kematian merupakan salah satu aspek yang sangat dijunjung tinggi. Oleh sebab itu adakalanya mayat disemayamkan sampai tahunan dengan pengorbanan yang tidak sedikit.

Acara kematian dalam masyarakat Mamasa sangat tergantung pada strata social dan tingkat ekonomi seseorang. Makin tinggi strata social seseorang dan makin baik keadaan ekonominya makin tinggi pula tingkatan acara kematiannya. Tingkatan acara kematian ditandai dengan besar kecilnya pengorbanan terutama berupa hewan ( babi dan kerbau).

Ada yang disemayamkan hanya 1 malam dengan mengorbankan 1 atau 2 ekor babi yang disebut disalu bai. Ada pula dengan mengorbankan 1 ekor kerbau dan disemayamkan 2 malam yang disebut dipa’tentenan atau tuntun pitu yang ditandai dengan 1 gendang dengan irama timpang.. Ada yang mengorbankan 3 ekor kerbau dan disemayamkan 3 malam disebut balado. Masih kategori balado ada yang mengorbankan 4-5 ekor kerbau disebut balado kamai. Pada kategori balado ini ditandai dengan 2 buah gendang yang digantung di depan rumah dengan irama tabuhan tertentu.

Selanjutnya kategori ruran dengan beberapa klasifikasi lagi seperti ruran kapotti’, ruran kalando, tallu kasera. Jumlah kerbau pada acara ruran 6-8 ekor. Tallu kasera 9-11 ekor kerbau. Jumlah gendang yang digunakan sebanyak 3 buah dan dapat juga menggunakan gong atau padaling.

Tingkatan tertinggi adalah allun dengan beberapa klasifikasi pula. Jumlah kerbau yang dikorbankan minimal 12 ekor sampai puluhan bahkan ratusan ekor. Jumlah babi tidak ditentukan. Gendang yang dibunyikan sebanyak 4 dan disemayamkan beberapa bulan sampai tahunan.

Inilah keempat aspek yang dianut oleh masyarakat Mamasa sebagai pedoman tatanan kehidupan masyarakat yang disebut Pemali Appa’ Randanna. Kata pemali berarti pantangan artinya pantang bagi masyarakat untuk melanggar norma-norma dari keempat aspek tersebut. Appa’ berarti empat sedangkan randanna dari kata randan bermakna aspek utama. Semoga bermanfaat  dan masukan dari semua pihak akan sangat bermanfaat untuk perbaikan tulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *