Melestarikan Tradisi Mangngaro di Nosu Sebagai Warisan Budaya

Melestarikan Tradisi Mangngaro di Nosu Sebagai Warisan Budaya. Tidak banyak yang mengenal Daerah Nosu sebab memang daerah ini tergolong terpencil dengan akses transportasi yang masih minim. Namun siapa sangka di daerah terpencil yang merupakan bagian dari Kabupaten Mamasa ini menyimpan sejuta warisan budaya yang tentu merupakan kekayaan bangsa ini. Nosu saat ini meliputi satu kecamatan dengan nama Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat. Kecamatan Nosu sebagian berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja di Sulawesi Selatan.

Melestarikan Tradisi Mangngaro di Nosu Sebagai Warisan Budaya.  Salah satu tadisi unik di daerah Nosu yakni tradisi mangngaro. Tradisi mangngaro adalah kegiatan mengeluarkan kembali mayat yang sudah bertahun-tahun tersimpan dalam kuburan dan mengganti pembungkusnya  dengan kain yang baru setelah melalui serangkaian ritual. Mangngaro hanya dilakukan oleh golongan bangsawan dengan tingkat ekonomi yang baik sebab tradisi ini membutuhkan pengorbanan yang lumayan besar. Disamping itu, mangngaro hanya dilakukan bagi orang yang melalui tingkatan upacara kematian tertinggi (dipandan atau diallun) pada saat baru meninggal.

Tradisi mangngaro merupakan bagian dari serangkaian tradisi kematian di daerah Mamasa (pa’tomatean) namun uniknya sebab tradisi mangngaro hanya dilakukan di daerah Nosu dan tidak ditemukan di daerah lain di kabupaten Mamasa. Tradisi mangngaro dilaksanakan pada akhir kegiatan pembersihan kubur disetiap bulan Agustus. Sekedar untuk diketahui bahwa kegiatan pembersihan kubur di daerah Mamasa hanya boleh dilakukan sekali setahun dan pada akhir kegiatan pembersihan kubur dilakukanlahj tradisi mangngaro di daerah Nosu. Melestarikan Tradisi Mangngaro di Nosu Sebagai Warisan Budaya.

Tradisi mangngaro telah dilakukan sejak dahulu sebelum masuknya agama Kristen dan agama lain di daerah Nosu ketika masyarakat Nosu dan Mamasa pada umumnya masih menganut agama leluhur (aluk tomatua). Makna mangngaro di masa lalu antara lain :

  1. Sebagai wujud pemenuhan nadzar bagi orang yang dikasihi semasa hidupnya dan dinyatakan melalui kegiatan memperbaharui pembungkus (balun) mayatnya dan melakukan serangkaian ritual sesuai keyakinan pada masa lalu.
  2. Makna kasih dan penghormatan terhadap keluarga. Pemahaman agama leluhur bahwa meskipun orang sudah meninggal dunia sesungguhnya masih dapat berinteraksi dengan keluarga yang ditinggalkan. Oleh sebab itu mereka juga harus diperlakukan sebagaimana layaknya orang yang masih hidup. Makna penghormatan seorang anak kepada orang tuanya juga diwujudkan dalam bentuk perhatian kepada mayat leluhurnya.
  3. Makna kekeluargaan. Tradisi mangngaro dilakukan dalam kebersamaan semua rumpun keluarga dan dilakukan serentak terhadap puluhan bahkan ratusan mayat. Mayat dikeluarkan dari kuburan berbentuk rumah (alang-alang) kemudian dibawa ke sebuah lapangan (ratte) untuk diupacarakan dan diganti pembungkusnya kemudian dikembalikan lagi ke dalam kuburan. Kegiatan mangngaro tidak sesederhana ini dan jika ingin menyaksikan secara lengkap datanglah ke Nosu pada setiap bulan Agustus.
  4. Makna kekeluargaan. Tradisi mangngaro merupakan ajang untuk saling mengenal antar keluarga terutama anak cucu yang tersebar di perantauan. Mereka akan hadir untuk bersama-sama mendukung tradisi mangngaro dan saling mengenal antara satu dengan yang lain.

Sejalan dengan perkembangan terutama setelah masuknya agama Kristen dan agama lainnya maka mangngaro mengalami pergeseran beberapa makna yang terkait dengan keyakinan. Misalnya kegiatan memberi sesajen (makanan) kepada arwah yang disebut ma’dulang  tidak lagi dilakukan. Sebagai gantinya yakni dilaksanakan ibadah bersama sesuai dengan keyakinan Kristen atau agama lain. Makna mangngaro saat ini lebih pada makna social dan bukan lagi makna religi. Melestarikan Tradisi Mangngaro di Nosu Sebagai Warisan Budaya. 

Meskipun telah mengalami pergeseran makna namun sesungguhnya tradisi mangngaro sangat penting untuk dilestarikan dengan tetap mengembangkan nilai-nilai social, kebersamaan dan terlebih melestarikan kekayaan budaya bangsa. Patut menjadi kajian orang Mamasa terutama masyarakat Nosu agar mangngaro tidak mengarah pada makna gengsi dan prestise tetapi tetap berada dalam bingkai social yang terpelihara dalam kehidupan masyarakat Nosu. Mari  lestarikan tradisi budaya kita yang luhur ini.

BACA ARTIKEL TERKAIT: Melestarikan Budaya Asli Indonesia di Era Globalisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *