Prosesi Pernikahan Adat Mamasa Sebagai Warisan Mulia Para Leluhur

Prosesi Pernikahan Adat Mamasa Sebagai Warisan Mulia Para Leluhur. Pernikahan merupakan proses awal terbentuknya sebuah rumah tangga dalam sebuah ikatan yang sah menurut norma-norma masyarakat setempat baik norma agama, norma adat maupun legalitas secara hukum. Setiap daerah, suku atau etnis memiliki prosesi tersendiri dalam melaksanakan proses pernikahan. Tulisan ini khusus membahas Prosesi Pernikahan Adat Mamasa sebagai warisan yang sangat mulia dari para leluhur.

Sebelum lebih jauh membahas tentang prosesi pernikahan, terlebih dahulu kita mengenal daerah Mamasa. Daerah ini terletak di Provinsi Sulawesi Barat di daerah pegunungan berbatasan dengan beberapa kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan dan Barat seperti Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten  Mamuju, Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Tana Toraja. Masyarakat Mamasa merupakan keturunan Pongkapadang adri Toraja dan Torije’ne’ dari daerah pantai.

Prosesi Pernikahan Adat Mamasa sebagai warisan mulia dari leluhur karena memiliki keunikan tersendiri. Sekilas tidak memiliki tahapan-tahapan yang rumit seperti  pernikahan Jawa atau Minang namun ada hal-hal yang sangat bernilai bagi masyarakat Mamasa dalam prosesi pernikahan ini. Pernikahan dalam masyarakat Mamasa merupakan salah satu dai 4 tatanan kehidupan masyarakat Mamasa yang dikenal dengan Pemali Appa’ Randanna yakni Pa’bannetauan (Pernikahan), Pa’totiboyongan (Perekonomian khususnya bercocok tanam), Pa’tomatean (upacara kematian) dan Kaparrisan atau Pa’kurru’sumangasan (Acara sukacita).

Meskipun prosesi pernikahan adat Mamasa tidak terlalu banyak tahapannya tetapi ada prinsip-prinsip tertentu yang dituangkan dalam norma adat yang harus dipatuhi semua masyarakat tanpa kecuali. Prinsip-prinsip itu antara lain: Pertama, pernikahan sangat disakralkan sehingga harus dilakukan secara bermartabat sesuai aturan adat dan keyakinan kepada Tuhan. Kedua, tidak diperkenankan menikah dengan keluarga dekat. Ketiga, pernikahan mempertimbangkan kesesuaian strata social.

Setiap pelanggaran atas norma-norma pernikahan di atas akan diganjar dengan hukum adat yang sudah menjadi warisan turun temurun. Sejalan dengan dinamika perkembangan masyarakat, telah terjadi perbedaa-perbedaan pelaksanaan pernikahan diberbagai komunitas tatapi secara umum masyarakat Mamasa memiliki pandangan yang sama terhadap pernikahan. Karena itu pernikahan adat Mamasa dipandang sebagai warisan mulia para leluhur.

Tahapan pernikahan adat Mamasa

Pertama, Massusuk adalah penjajakan paling awal dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang dilakukan secara sangat rahasia oleh kaum wanita dan tidak boleh diketahui oleh kaum lelaki dan masih terbatas ditujukan kepada orang tua kandung perempuan.

Kedua, Mangngusik adalah penjajakan kedua dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan dimana beberapa kaum wanita dari pihak laki-laki mendatangi pihak perempuan untuk menanyakan kepastian adanya peluang menuju proses selanjutnya. Semua yang terlibat dalam kegiatan ini adalah kaum wanita dan belum bias diketahui oleh kaum pria.

Ketiga, Ma’pasule Kada adalah proses menyampaikan jawaban secara resmi dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki tentang adanya peluang untuk menuju proses selanjutnya yakni proses pelamaran. Proses ini pun masih terbatas pada kaum wanita dan belum bias diketahui oleh kaum pria. Ini dimaksudkan sebagai sikap etika kepada kaum pria dimana kaum pria di Mamasa tidak boleh mengetahui hubungan yang belum pasti antara seorang perempuan dengan seorang lelaki.

Keempat, Ma’randang (Melamar) yakni proses pelamaran secara resmi dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan.Pada pihak perempuan,diawali dengan penyampaian kepada kaum pria bahwa akan ada lamaran dari pihak keluarga tertentu. Dalam penyampaian ini tidak boleh menyebutkan secara gambling siapa nama laki-laki dan siapa perempuan yang akan dilamar. Dengan kalimat yang halus kaum wanita menyampaikan kepada kaum pria bahwa keluarga kita akan kedatangan tamu dan kaum pria pun menjadi maklum. Semua rumpun keluarga perempuan diundang dalam acara ini.

Proses ma’randang ini merupakan bagian yang paling penting dan alot bahkan sering berlangsung sejak petang sampai subuh. Dalam acara ma’randang, pihak perempuan bertanya kepada pihak laki-laki akan maksud kedatangan mereka. Semua dialog dilakukan dengan bahasa pantun dan saling menyanjung  kedua belah pihak. Setiap rumpun keluarga pihak perempuan dipersilahkan berbicara mengungkapkan isi hatinya terkait maksud kedatangan pihak laki-laki.

Dalam proses ma’randang juga ditelusuri berbagai hal misalnya kemungkinan adanya hubungan darah antara perempuan dan laki-laki yang akan menikah, kemungkinan adanya perselisihan keluarga dimasa lalu, kemungkinan adanya keterikatan dengan pihak lain, adanya perbedaan anatara kedua belah pihak misalnya perbedaan keyakinanatau adat istiadat. Apabila ada masalah terkait dengan hal-hal tersebut maka para tokoh adat dan keluarga  harus terlebih dahulu menyelesaikannya menurut hukum adat dan kebiasaan.

Apabila ditemukan adanya hubungan darah yang sangat dekat misalnya bersepupu tiga kali atau sepupu empat kali maka pihak laki-laki diganjar dengan menyiapkan seekor kerbau atau sepetak sawah sebagai jaminan apabila kelak dia tidak mampu menjaga keutuhan rumah tangganya. Jaminan ini disebut Kattuan Lolo (pemutusan hubungan darah). Namun jika sebaliknya pihak perempuan yang menyebabkan keretakan rumah tangganya maka diberikan ganjaran 2 kali lipat. Prosesi Pernikahan Adat Mamasa sungguh warisan mulia dari leluhur.

Setelah terjadi kesepakatan dalam acara pelamaran ini maka pembicara dari pihak perempuan memanjatkan doa dalam ungkapan kata yang sangat puitis agar kedua calon mempelai diberkati oleh sang penciptanya dalam menjalani bahtera rumah tangga. Tahap selanjutnya pada acara pelamaran ini adalah ma’nanna’ (menasihati) dimana orang-orang tua dari kedua belah pihak secara bergantian memberi nasihat kepada kedua calon mempelai sebagai bekal memasuki rumah tangganya.

Pada acara pelamaran ini juga sekaligus ditetapkan waktu pelaksanaan pesta pernikahan sesuai dengan waktu yang dianggap paling baik oleh keluarga. Juga dibicarakan proses pelaksanaan pernikahan dari sisi agama dan dari sisi hukum sebagai warga Negara Indonesia.

Kelima, Ma’somba (Pesta Pernikahan) adalah puncak dari proses pernikahan yang dilaksanakan dengan pesta sebagaimana lazimnya pada setiap pernikahan. Tentunya sangat ditentukan oleh kemampuan keluarga dan strata sosialnya. Dalam acara ini diawali dengan prosesi penerimaan rombongan keluarga laki-laki oleh pihak keluarga perempuan dengan tradisi khas Mamasa seperti pantun penghargaan (ma’singgi’), prosesi menjamu tamu diawali dengan menyuguhkan sirih pinang kemudian hidangan kue-kue dan minuman dan pada penghujung acara dilakukan makan bersama dengan hidangan khas Mamasa.

Salah satu prosesi adat dalam acara pesta pernikahan  (ma’somba) yakni menyajikan makanan khusus kepada kedua pengantin dalam wadah dulang. Sajian ini disebut angka’ yang terdiri dari daging dengan bagian-bagian tertentu dan ukuran yang besar. Salah seorang tokoh adat selanjutnya menjelaskan makna hidangan ini kemudian pengantin laki-laki menyerahkan makanannya kepada pihak perempuan dan sebaliknya pengantin wanita menyerahkan makanannya kepada pihak laki-laki.

Keenam, Massarak. Prosesi pernikahan adat Mamasa sungguh merupakan warisan yang mahal dari leluhur. Prosesi tidak berakhir di sini. Masih ada tahapan berikutnya yakni pengantin laki-laki memboyong pengantin perempuan ke rumahnya dan mengundang keluarga pihak perempuan. Acara ini disebut Massarak. Pesta kembali digelar dan saat itu pengantin perempuan resmi menjadi bagian dari keluarga suaminya.

Inilah uraian singkat dari proses panjang prosesi  pernikahan adat Mamasa sebagai warisan yang mulia dari para leluhur.  Lestarikanlah budayamu jika engkau tidak ingin kehilangan jati diri. Semoga tulisan ini dapat memperkaya pengetahuan anda dalam mengenal budaya Indonesia yang begitu kaya dalam keragaman.

ARTIKEL TERKAIT: PANDUAN PERJALANAN WISATA KE MAMASA SULAWESI BARAT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *