Prospek Pengembangan Kopi Mamasa Sebagai Obyek Agrowisata

Prospek Pengembangan Kopi Mamasa Sebagai Obyek Agrowisata. Beberapa tahun yang lalu saya ke Bukit Kintamani di Bali. Tujuan utama saya adalahuntuk menyaksikan agrowisata Kopi Luwak yang terkenal nikmat itu. Setelah menyaksikan dan menikmati Kopi Luwak , kemudian saya membayangkan kopi Mamasa yang menurut saya jauh lebih nikmat dari kopi yang saya rasakan di Kintamani. Yang terasa nikmat adalah “kemasan wisatanya” dan sesungguhnya bukan kenikmatan kopinya. Saya kemudian berfikir, jika di Kintamani bisa menjual kopi dalam kemasan wisata, mengapa Mamasa tidak bisa?

Berbicara soal kopi bagi orang Mamasa merupakan bagian dari kehidupan mereka. Soal kualitas kopi Mamasa tidak diragukan sebab kopi Mamasa memiliki citarasa yang khas dan sulit dilupakan. Kopi memang tumbuh dengan baik di Mamasa mengingat letak geografis Mamasa yang berada pada ketinggian antara 600-2000 mdpl. Sayangnya, produksi kopi Mamasa sangat fluktuatif setiap tahunnya. Menurut data dari BPS Kabupaten Mamasa produksi kopi Mamasa baik arabika maupun robusta pada tahun 2010 mencapai 8718 ton kemudian tahun 2011 turun drastic menjadi 3852 ton berlanjut ke tahun 2012 pada angka 3862. Tahun 2013 naik menjadi 5514 ton dan tahun 2014 turun lagi menjadi 5149 ton. Prospek Pengembangan Kopi Mamasa Sebagai Obyek Agrowisata.

Dalam tulisan ini kita tidak akan membahas soal produksi kopi dan persoalannya tetapi kita akan mengkaji prospek pengembangan kopi dari  sudut pandang pariwisata. Kopi memiliki daya tarik yang unik jika dikemas dalam bentuk agrowisata. Hamparan perkebunan kopi di daerah pegunungan saja sudah sangat menarik. Bandingkan dengan perkebunan kopi dan teh di daerah Bandung. Apalagi jika dikemas seperti kopi Luwak di Kintamani dan tempat-tempat lain. Proses pemetikan, pengolahan samapai siap disajikan sebagai minuman dilakukan di lokasi perkebunan menjadi sajian yang menarik bagi para wisatawan. Prospek Pengembangan Kopi Mamasa Sebagai Obyek Agrowisata.

Menyiapkan obyek wisata terutama wisata alam dan agrowisata memang harus dilakukan secara terpadu dengan berbagai factor pendukung. Oleh karena itu betapun potensi pengembangan kopi Mamasa sangat besar jika tidak dilakukan secara simultan dan terencana tentu hasilnya tidak akan sesuai dengan harapan. Berbeda halnya dengan obyek wisata sejarah dan purbakala bisa saja menjadi destinasi tunggal seperti Borobudur dan lain-lain. Satu kelebihan karena kopi Arabica dan robusta tumbuh dengan baik di Mamasa.

Secara teknis, pengembangan kopi untuk destinasi agrowisata seyogyanya dimulai dari niat pemerintah dalam bentuk program pengembangan destinasi. Ketika hal ini menjadi program pemerintah maka selanjutnya dibarengi dengan penyiapan infrastruktur pariwisata, pendampingan teknis dan memberi pemahaman kepada pelaku wisata (masyarakat) tentang prospek wisata agro. Lokasi perkebunan dirancang sedemikian rupa agar menarik dan mudah dijangkau. Kembali pada pengalaman saya di Kintamani, hanya dengan bekal beberapa puluh pohon kopi dilengkapi dengan pondok-pondok yang asri kemudian kopi yang baru dipetik diberikan kepada beberapa ekor Luwak , selanjutnya “kotoran” Luwak berupa biji kopi diproses secara tradisional menjadi minuman yang sangat mahal.

Sebagai gambaran analisis usaha secara kasar tentang kopi Luwak: Harga kopi biji dari petani sekitar Rp.7.000,-/kg belum termasuk ongkos-ongkos. Harga kopi biji “kotoran “ Luwak yng belum dibersihkan Rp.300.000,-/kg, yang sudah bersih Rp. 1.200.000,-/kg dan yang sudah disangrai mencapai Rp. 1.500.000,-/kg. Kopi Luwak yang sudah diseduh untuk diminum harganya bisa 10 kali lipat dari kopi biasa. Harga seekor musang jenis Luwak berkisar 300.000-500.000 rupiah.

Program penegmbangan kopi untuk tujuan agrowisata bisa mendatangkan multiplier efek terhadap masyarakat dan daerah Mamasa secara umum. Pertama, dapat mendorong sector pariwisata yang tentu akan mendongkrak pendapatan daerah. Kedua, masyarakat akan termotivasi mengembangkan budidaya kopi sebab pendapat petani akan meningkat; bukan hanya dari harga kopi yang meningkat tetapi juga dapat berdampak pada usaha lain ketika jumlah wisatawan meningkat.

Demikianlah uraian singkat tentang prospek pengembangan kopi di Mamasa sebagai agrowisata semoga dapat menjadi bahan perenungan untuk merencanakan pengembangan kopi sebagai komoditi andalan kabupaten Mamasa.

Artikel terkait: PANDUAN PERJALANAN WISATA KE MAMASA SULAWESI BARAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *